Tinggal menghitung hari dan saya pun segera terbang meninggalkan negeri antah-berantah ini. Kapan akan kembali? Nope yang silahkan dibaca tidak mau/tidak tau/tidak mau tau. Terlepas dari kekesalan riset, ada perasaan lega juga bakal meninggalkan kehidupan monoton ini. Yah, hidup di sini memang ada sisi positif dan negatifnya dan ini yang mau saya review sejenak. Mudah-mudahan bermanfaat buat yang tidak sengaja tersasar ke sini.
1. Hidup yang monoton
Saya akui hidup disini memang tenang dan damai. Kita tidak perlu pusing-pusing mikirin ‘hal-hal kecil yang tidak perlu’ seperti BBM, macet, pendidikan, kesehatan, tempat tinggal. Salah satu sebabnya jelas: karena kita adalah pendatang. Warga asli tentu juga pusing dengan pajak mobil yang tinggi dan harga bahan bakar yang juga tinggi. Tapi itu bisa disiasati dengan naik sepeda. Dijamin bebas macet, sehat, dan hemat (bayangin aja naik bis jam 9 ke atas €1/jam, berarti pergi pulang udah habis €2/hari. Kalau sebulan???). Saya jelas bakal kangen juga naik sepeda. Sayang kondisi di negeri sana tidak memungkinkan. Apa enaknya naik sepeda tapi harus bersaing dengan angkot atau motor yang ugal-ugalan. Dibangun jalur khusus sepeda pun, saya pesimis bakal lebih banyak motor yang memanfaatkan. Ditambah jalan yang ’sempit’ dan sudah pasti dihabiskan oleh angkot yang ngetem sembarangan dan mobil yang membludak dimana-mana. Sangat tidak kondusif.
Kesehatan sudah dijamin oleh asuransi yang merupakan barang wajib di sini. Sebisa mungkin jangan sampai sakit karena dokter mahal dan harus janjian dulu. Konyolnya bisa sampai 1 bulan apalagi kalau terlihat tidak parah-parah amat. Sakitnya kapan, diobatinnya kapan. Satu fakta lagi, kita ngga bisa sembarangan pilih dokter. Harus yang sekode pos dengan rumah kita. Kalau pindah rumah, berarti harus segera terdaftar di dokter yang baru.
Pendidikan. No comment. Wajib belajar sudah jelas. Tapi soal harganya kurang tau juga.
Tempat tinggal. Untuk pendatang pasti harus punya tempat tinggal yang jelas karena kalau mau ngurus apapun surat kontrak rumah wajib dibawa. Sayangnya karena harga rumah mahal, tampaknya seumur hidup sampai tua mereka akan terus mengontrak rumah.
Mungkin yang buat warga sini ’stres’ adalah pajak yang tinggi. Semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi pajaknya. Hasil ngobrol-ngobrol dengan salah satu Ph.D, minimal penghasilan kena pajak adalah €1200. Dana hasil pajak dipakai untuk subsidi silang seperti buat santunan orang tua (denger-denger dapet €1100/bulan) dan buat pengangguran (kata mbak di Jerman bisa dapet €700/bulan). Ya ngga heran juga kalau yang jelas-jelas kerja ’sirik’ sama para pengangguran yang tetap dapet ‘gaji’ tiap bulannya.
Buat orang asing, nyari kerja di sini ngga gampang. Selain harus bisa bahasa setempat, kadang ijazah dari negeri kita ngga laku di sini. Terpaksa harus ngelakuin blue collar job. Tentu ngga semua seperti itu, kalau kita punya koneksi perusahaan asing yang kenal dengan perusahaan tempat kita kerja di negeri sana, plus ditambah keberuntungan ya bisa aja dapet white collar job. Berdasarkan obrolan dengan bapak yang kerja di Jerman, prioritas mereka dalam mempekerjakan orang adalah warga negara sendiri, Uni Eropa, Asia, baru mungkin Endonesia. Hmmm susah juga.
Aneh ya? Keteraturan di sini malah buat hidup terasa membosankan. Hari Minggu, toko-toko tutup kecuali minggu pertama setiap bulan, itu juga bukanya siang hari. Hari biasa, toko-toko tutup sekitar jam 18.00 kecuali Kamis (untuk toko-toko tertentu) yang bisa sampai jam 21.00. Mungkin karena bayar pekerja mahal, jadi mereka juga males buka terlalu lama. Pelayan di toko juga sedikit sudah cukup. Ngga ada ceritanya pramuniaga nganggur dan ngebuntutin konsumen kayak salah satu toko penjual obat-obatan di negeri sana. Lah tempat penitipan tas juga ngga ada. Di sana kalau bosen banyak orang yang lari ke mall. Mall di sini??? Hahahaha. Lebih baik pergi bersepeda ke alam bebas, bisa nemu bison di perumahan penduduk loh.
Sempet juga punya ide kalau kita buka toko yang jualan hari Minggu kayanya bakalan laku tuh 
Pelarian lain: internet. Bener-bener kalau ngga ada internet, serasa terisolasi dari dunia luar. Enaknya kita langsung bayar per bulan sekian euro. Kalau beli paket sekian jam = sekian rupiah, wah ngga akan cukup. Wong makenya juga 24 jam. Di sini, internet lumayan cepet, nyaris ngga ada yang diblok, tapi hati-hati aja kalau udah pulang bisa mengalamai post-bandwith-sydrome.
2. Mandiri
Mau makan? Masak sendiri. Apalagi kalau beli di luar sudah jelas mahal. Jangan harap ada emang-emang gorengan, nasi goreng, siomay dan sebangsanya lewat di malam buta. Lah di siang bolong aja ngga ada. Kita dituntut untuk memenuhi kebutuhan perut sendiri. Mau siomay, ya bikin sendirilah. Mau bakso, ya ngebulet-bulet bakso sendiri. Ngga heran juga kalau nyari-nyari resep di internet sering bermuara di webnya ibu-ibu pribumi yang nikah dengan bapak-bapak asing dan ‘terpaksa’ ikut suaminya. Ngga aneh kalau banyak yang jadi ’stres’ dengan kondisi ini.
Kebiasaan di sini yang menerapkan slogan hemat pangkal kaya juga membuat orang sini lebih sering bawa bekel sendiri dari rumah. Bahkan sampai ke level profesor. Ada kantin di kampus, tapi harga tidak sebanding dengan menu yang didapatkan. Mungkin itu juga sebabnya saya nyaris ngga punya uang € kontan di dompet (adanya malah rupiah). Udah jarang jajan, naik sepeda pula. Lima hari kerja (kalau ngga belanja makanan mentah) bisa cuma ngeluarin uang €0. Kalau mau belanja tinggal gesek kartu atm aja. Praktis
Perhitungan saya secara kasar, untuk makan sebulan bisa sekitar €30 dengan catatan ngga beli yang aneh-aneh. Murni lauk-pauk dan tanpa beras. CMIIW ya!
Beruntunglah yang hidup di Groningen di sini ada penyedia jasa katering buat yang males masak. Tapi si tetehnya udah mau pulang sekitar akhir tahun ini. Sebenernya ada satu lagi, tapi saya ngga tau harus ngelink kemana.
Sisi positif buat saya yang terpaksa harus masak-kalau ngga ya ngga makan adalah pola makan saya jadi jauh lebih teratur dibanding waktu jadi mahasiswa di Bandung. Harus makan 3 kali sehari di hari kerja. Makan pagi wajib supaya ada tenaga memboseh sepeda, siang juga laper abis kerja setengah hari, malem laper lagi abis kerja dan memboseh sepeda buat pulang. Tapi tetep aja, weekend kembali ke entropi positif gara-gara males masak. Kebalik ini.
Satu lagi yang suka bikin masalah: sepeda! Paling males kalau tiba-tiba ban sepeda kempes atau bocor. Kempes mending bisa dipompa (yang kadang suka saya paksain sampe kampus dulu aja, baru dipompa), lah kalau bocor? Berhubung tenaga di sini mahal, kalau nambal sepeda di kampus dengan tingkat kebocoran parah bisa sampai €29. Itu cuma buat ganti 1 ban doank. Padahal harga sepedanya sekitar 2x harga tambal ban. Keuntungan: jadi tau istilah persepedaan dalam bahasa Inggris. Kerugian: bangrut!
Apa akal? Buat yang sepedanya sering bermasalah sebenernya bisa beli bike kit dengan harga €4 saja. Isinya lem, obeng-obengan, dan karet penambal ban. Walau saya belum pernah praktik nambal ban sendiri, tapi pernah kursus singkat (baca: ngeliatin doank) dengan MM pas bantuin nambal sepeda T* di suatu malam di musim dingin.
Keuntungan dari hidup yang harus mandiri disini adalah kita bisa pulang ke tanah air dengan multiple degree.
Kurang gaya apa coba seorang Ph.D dengan gelar plus: tukang masak dan tukang tambal sepeda?
Itung-itung kalau susah mengaplikasikan ilmu (baca: susah dapet kerja) bisa buka restoran atau tambal ban. Jebolan luar negeri pula
.
3. Kekagetan Budaya
Ya memang sudah sering denger, kalau orang bule tuh begini dan begitu. Tapi begitu menghadapi kenyataan tetep juga kaget. Mungkin yang di negeri sana hidup di kota besar dan bergaul dengan situasi begitu, tidak terlalu masalah. Kadang beda budaya ini yang buat ngga nyaman dan berujung males bergaul. Kalau ada borrel, pasti pada males datang. Terpaksa datang karena ngga enak, bawaannya pengen cepet-cepet pulang. Ada party peruntuhan housing, ga datang dan ga bantuin sama sekali. Malah niat kabur ke luar negeri. Beda budaya kadang juga bikin ngga nyambung. Ini juga yang jadi penyebab, kita gaulnya sama orang endo lagi dan lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Jauh-jauh ke negeri orang, kok pergaulan tetep sempit? 
4. Cuaca yang tak menentu
Buat saya, musim dingin itu terkesan gloomy. Tidak bersemangat. Maunya ngelamun aja dan tidur di balik selimut. Langit juga cepet jadi gelap. Giliran spring dan summer cuaca semakin tidak menentu, kadang angin kenceng, hujan lebat, eh tiba-tiba panas (ini mungkin cuma di Belanda aja kali ya?). Bedanya suasana terasa lebih hidup dan ceria apalagi kalau matahari lagi terang-terangnya. Bikin kembali bersemangat. Susahnya langit selalu terang sehingga oksitosin saya tidak bekerja dengan baik. Akibatnya saya mengalami sleeping disorder (selain stres riset). Shalat magrib (jam 10) dan Isya (jam 12) jadi ‘terpaksa’ dijamak. Belum lagi subuh yang jam 3 pagi. Kebayang kalau harus shaum di sini. Mending saya ambil summer vacation aja, trus pulang ke negeri sendiri. 
5. Susahnya ibadah
Ini sih udah jelas. Di kampus relatif mudah. Kalau jalan-jalan yang repot. Terpaksa di bis atau di kereta. Tapi kadang ngga enak juga kalau orang yang sebangku atau sebarisan sama kita, ngeliat yang kita lakukan. Lucu juga sih, mau ibadah kok malu. Di endo, mereka sudah ngerti tanpa kita terangin. Di sini mereka belum ngerti jadi harus diterangin. Mau wudhu aja dikirain sakit atau gerah.
Yah itulah ‘repotnya’ kondisi di sini.
6. Susahnya mencari makan
Nah ini mungkin yang paling sering luput. Banyak yang beranggapan selama ngga makan b*bi dan minum alkohol, ya semua makanan dan minuman itu boleh. Sayangnya itu salah, kawan. Makan sambel juga bisa ada kandungan yang ngga boleh kok. Minum jus juga sama harus hati-hati. Mungkin banyak yang ngga tau, kalau ada kode-kode tertentu di makanan/minuman yang tidak boleh bagi golongan tertentu untuk dikonsumsi. Gampangnya kita sebut aja kode E. Enaknya di sini kandungan dalam makanan/minuman tertulis jelas-jelas di luar kemasannya.
Bingungnya kode E yang tidak boleh ini ada beberapa versi. Kita sebut saja aliran MM (didapet dari flyer untuk mahasiswa baru yang datang ke Groningen) dan aliran BD (entah dari mana). Yang saya tulis di sini adalah aliran MM. Kode E yang tidak boleh: 140, 141, 153, 161, 252-422 (kalau ada tulisan asam sitrat boleh), 430-434, 470-478 (kecuali 471 sojalecitin), 485, 492, 494, 542, 570, 572, 631, 635, 913, 920, varken (alias b*bi), weipoeder, rum, gelatin likeur, monoglicerida-vetzuren. Setau saya aliran BD lebih banyak lagi. Tapi kadang dua versi ini kontradiktif. Supaya lebih afdol, saya cross check ke sumber ke-3, akhirnya saya dapet dari TR versi MA (file dalam bentuk doc, kalau ada yang tertarik silahkan tinggalkan pesan). Yang terakhir tentu saja bertanya pada mbah Google. Lagi-lagi banyak benturan antara ke-4 versi. Akhirnya saya putuskan untuk ikut aliran MM saja ditambah E120 hasil nanya mbah Google. Sebagai tambahan, saya kurang tau juga apakah kode E terlarang itu cuma berlaku di Belanda/Eropa ataukah di negara/benua lain juga sama kodenya.
Supaya mudah dibawa kemana-mana, catatan itu saya tulis di hape. Bahkan saat borrel pun kadang curi-curi liat kandungan dalam jus yang disuguhin. Pernah ketauan tapi mereka mengira kita sedang ngeliat kandungan kalorinya. Paling sedih kalau ada yang lagi ultah, kita ngga bisa ikut nyicip kue yang dibawa. Pura-pura ke coffee room, nyelametin, ambil kopi, ikut ngobrol basa-basi, dan balik lagi ke ruangan sambil berharap orangnya ngga sadar kalau kita belum ambil kue. Pernah juga nakal, ngambil kue sih
. Yang jelas kita seneng banget kalo TR atau TL yang ultah. Kuenya bisa dijamin halal dan ada makanan endo lain selain cake.
Mau makan apapun juga harus milih yang vegetarian. Bahkan ayam dan sapi pun diragukan kehalalannya. Walau kata orang ini, daging yang disembelih ahli kitab itu ngga apa-apa, ya ngga ada salahnya juga kita tetep berhati-hati. Sebenernya ngga jaminan juga, semua daging ayam dan sapi di endo halal. Kode E juga ada di makanan/minuman di endo. Tapi ya udah kebiasaan aja, ngerasa aman di negeri sendiri. Apa sertifikat halal dr *U* di endo bisa dijamin???
Saya juga pernah kepleset beli makanan yang ada E tidak bolehnya. Akhirnya terpaksa dikasih ke orang
, tapi ada juga yang kemakan sih. Makanya kalau belanja itu harus tenang dan ngga buru-buru.
Kadang miris juga ngeliat sesama m**lim yang beli makanan yang ada E terlarang. Entah dia memang ngga tau kalau ada kode-kode seperti itu atau memang dia yang ngga mau tau. Sebenernya kalau temen sendiri sering saya kasih tau (maklum kadang co tuh kalau belanja ngga teliti – no offense ah), tapi suka sebel juga kalo orangnya keras kepala dan tetep ngga mau dibilangin (orangnya pasti ngga akan baca blog ini). Sudah saya ingetin loh ya sebagai temen, jadi jangan nuntut di akhir kelak
. Sebenernya kenapa juga sih repot-repot harus makanan halal? Soalnya kalau ngga halal, sayang amal ibadah kita selama 40 hari bakal sia-sia (CMIIW). Kenapa juga harus kode-kode yang disebutin di atas? Wah bakal panjang penjelasannya. Intinya yang berasal dari b*bi atau dikultur di media yang ada komponen b*bi-nya, jelas ngga boleh.
Wah udah panjang juga. Segitu dulu penuturan saya tentang ngga enaknya hidup di sini. Maaf kalau ada fakta yang salah karena saya cuma hidup di sini kurang dari 2 kali umur jagung. Silahkan kalau ada yang lebih berpengalaman untuk menambahkan. Selain itu pengalaman hidup di ‘kota kecil’ Groningen mungkin beda dengan yang hidup di Amsterdam. Salutlah buat yang bisa bertahan hidup di sini bertahun-tahun, apapun itu alasannya. Fuuuuh what a life!
Yeaaa doei my lame life (sebentar lagi).
udah lama pengen nulis kesan idup di gron…tapi pra udah cukup nulis dengan lengkap…hehe..
tapi agak kurang setuju mun monoton mah? ko saya ga ngerasa yah? kan selalu bisa cari hibuburan di internet…terus kl bosen tinggal jalan2 kemana kek…wong banyak bgt tmpt yg pgn dikunjungin…modalny cuma rajin browsing…
mungkin, pra harus cari teman idup kali nih..biar tiap wiken semangat karena bisa tilpun2an…ato mlh udh??? hihihi…
Oleh: theSwanRose on Juni 24, 2008
at 10:51 am
theSwanRose: yah By,ngenet wae juga bosen atuh. Itu ge bukan saya aja yang ngerasa. Yg laen juga setuju termasuk anak Ph.D yang rumahnya bakal kami tebengin. Malah dia yg ngomong duluan loh.
Jalan2 sih jalan2 tp kalo ngga ada waktu? Ngga ada duit? Dan yang paling penting ga ada yg asik diajak jalan alias ga ada yg mau gimana?
Sok atuh mo nemenin saya ke Paris? Hehehe
Oleh: Pi on Juni 24, 2008
at 4:03 pm
ikut dong ke Paris…
jangan manjat menara epel ya!
Oleh: Prib on Juni 28, 2008
at 11:52 am