Oleh: Pi | Oktober 11, 2008

In Memoriam

Hari itu tak sengaja aku berpapasan denganmu dan kau menyapaku dengan sederhana. Sapaan yang masih berlanjut di hari-hari berikutnya setiap kita berpapasan. Sapaan yang tiba-tiba membuatku merasa diterima dilingkungan baru ini dan mengikis kekhawatiranku yang kadang berlebihan. Sapaan yang juga mengundang tanda tanya. Aneh memang. Kenapa perbuatan baik harus dipertanyakan?

Sapaan itu juga mungkin yang menjadi awal mula pertemanan kita. Tahun itu memang tahun yang “ajaib” dan cukup berat buatku. Berbagai peristiwa kita alami bersama. Tidak hanya yang menyenangkan bahkan yang konyol dan menyebalkan.

Ingat saat aku “dipaksa” membuat surat rekomendasi? Padahal kenal pun tidak terlalu. Akhirnya kau memberikan contoh surat dari teman kita yang lain. Mungkin suratku yang paling tak bermutu dibanding yang lain :D

Aku pun selalu ingat pesan sponsor darimu setiap kali kau meminjam bukuku. Salah satu kejutan kecil dan menyenangkan yang pernah seorang peminjam lakukan padaku seumur hidupku. Aku memang tak fasih menulis hal agamis seperti itu dikala berbalik mengembalikan bukumu. Mungkin malah kau sudah tahu semuanya. Tak apa-apa yang penting aku sudah mencoba ;)

Kemudian ingatkah kau obrolan santai kita bersama teman-teman kita yang lain (IS, BuH, SJ, dkk) di sabtu sore saat istirahat? Obrolan ringan-ringan saja tapi itu yang selalu membuatku terkenang. Benar-benar akhir pekan yang menyenangkan bukan? Tidak ada pelajaran eksak dan kita bisa pulang jam 5 sore.

Saat buka bersama kelas yang bertepatan dengan ulang tahunku. Aku “terpaksa” membawa pastel, teman-teman secara spontan merayakannya dengan sebatang lilin yang ditemukan di kolong meja ~_~ dan kau menyelamatkanku dari meniup lilin ^_^ . Masih ada kejutan lain tapi pada intinya aku cuma ingin mengatakan bahwa ulang tahun keenambelaslah yang paling berkesan sejauh ini. Yup! Sweat sixteen.

Gara-gara dirimu dan saudara kembarmu pula, aku menjadi akrab dengan Sano dari kelas lain. Padahal kami tak pernah sekelas tapi selalu ada obrolan dengan bahasa yang hanya aku dan Sano yang paham. Tak jarang kami bisa tertawa karena hal yang hanya kami berdua yang mengerti.

Atau tanggal 23 Mei yang bersejarah bagiku. Kau tak mengatakan apa-apa tapi menambahkannya dalam pesan sponsormu di buku yang kau balikkan hari itu.

Hal menyebalkan?

Ingatkah tragedi paparazi di ulang tahun sekolah tahun itu? Entah kenapa pula saat kau kembali ke sekolah sore hari untuk pembajaan, kau tiba-tiba masuk ke kelas itu. Semakin menyebalkan saat aku tahu kamu sebenarnya bisa mencegah peristiwa itu agar tidak pernah terjadi. Lebih konyolnya aku jadi mendengar fakta lucu tentangmu yang aku tahu tidak benar sehingga aku harus mati-matian menahan diri untuk tidak tertawa. Aku juga harus menahan diri untuk tidak melontarkan kalimat pembelaan yang malah menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.

Juga saat kamu tiba-tiba memberi tahu fakta menyebalkan sore itu dan membuatku terngiang-ngiang kata-katamu bahwa “ini bukanlah masalah salah dan benar”. Ataupun fakta lain yang membuatku merasa mual. Ataupun kesalahpahaman kecil yang timbul antara aku, kamu, dan Sano. Untunglah semua bisa diselesaikan.

Saat kamu berusaha mencegah kedua orang temanmu melakukan hal yang “kurang tepat” yang berimbas dirimu menjadi juru damai dua orang keras kepala yang berselisih paham. Kamu mengajukan diri begitu saja tanpa diminta @_@ dan sebagai konsekuensinya kamu harus menjawab ratusan pertanyaan yang sudah berkecamuk di benak salah satu pihak selama ini. Ah kamu pasti tak pernah tahu bahwa dalam misi perdamaian kita, ada yang menyangka bahwa kita bermaksud duet ikut lomba baca puisi @_@

Hal konyol?

Kelompok 3 Sosiologi Desa Mulyaharja: orang fanatik, Pak Heping Pan, insomnia yang menular, dan kertas roti yang selalu kau bawa untuk menggambar denah padahal hanya ada secuil @_@. Kamu juga pasti tak pernah tahu alasan salah satu anggota kelompok kita yang hampir mengundurkan diri di H-1.

Agustusan dan Tumpeng Donat: yang menyebabkan kelas kita didiskualifikasi.

Lebaran dan kue keju: protesmu saat tak kebagian.

Perpisahan dengan Katarina (Pekat 2002): semua film kamera terbakar ~_~

Demisionernya Pi: kejutan awal cawu dan teriakan salah seorang pupuhu dari lantai atas mushola siang itu.

Takbir 2001: lelucon name tag dan manekin

Lomba Nasyid: lagu tanah air yang dimodifikasi dengan suara burung

Geografi: aktingmu sebagai pahlawan super yang sayapnya nyangsang di Menara Eiffel ^_^ . Sayangnya kamu bukanlah pemenang voucher makan mie ayam Mas Bejo

Sejarah: hubungan antara pembebasan Penjara Bastilles dan ulang tahunmu

Ingatkah kau itu semua?

Satu lagi, tebakan ngaasalku di pagi itu yang sedikit merubah ekspresi wajahmu walau kau berusaha mati-matian stay cool :P . Yang akhirnya menjadi kisah sendiri di kehidupanmu. Kisah yang menakjubkan dan mengharukan dan sampai hari ini kadang aku masih tidak percaya. Kisah yang bermula dan berakhir di tempat yang sama. Kisah yang mungkin aku hanya tahu sedikit awalnya dan tiba-tiba mendapat kabar bahwa itu sudah akan berakhir di hari ini. Kisah yang membuatku berpikir bahwa kata itu memang harus diperjuangkan.

Selamat! Hanya itu yang bisa kuucapkan kali ini. Ya. I think you deserve it. Setelah segala peristiwa yang terjadi. Semua perjuangan, “penderitaan”, dan pengorbanan terbayar sudah. Aku pun bisa pensiun sebagai secret keeper-mu.

Be happy always there my friend. Thank you for all your helping in my youth when I still green in decision. Thank you for all the experiences, all good and bad memories, and all life lessons that you gave to me. I am so sorry for all the troubles I gave to you in that year. It wasn’t planned you know that.

Satu hal yang aku tak pernah lupa. Pertanyaanku nyaris setahun kemudian tentang kenapa kau menyapaku pagi itu saat kita belum kenal sama sekali. “Soalnya saya pengen bikin kamu cerewet. Abisnya kamu diem aja sih”, jawabmu. Jawaban yang sederhana dan mungkin terdengar biasa-biasa saja bagi sebagian orang. Akan tetapi buatku itu adalah jawaban yang jujur dan bermakna dalam. Orang pertama yang kukenal bisa melihat sisi lain orang yang sama sekali asing baginya.

Jawaban itu pula yang menyisakan satu pikiran: Seandainya aku punya keberanian seperti itu mungkin aku bisa menyelamatkan satu jiwa yang rapuh dan membuatnya merasa diterima di lingkungan barunya.

Farewell my friend.

Senang pernah mengenal dirimu dalam hidupku yang singkat ini.

Until we meet again then? Or maybe not? :?

ipang_sahabat_kecil

(click to play)


Tanggapan

  1. ie teh wafat atau pergi jauh??

  2. Sudah tidak ada lagi orang yang sama seperti dulu


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.