Review: Terbang dengan Scandinavian Air (SAS)

Seperti yang sudah saya singgung di tulisan sebelumnya, Scandinavian Air atau SAS seharusnya termasuk ke dalam full service airlines dengan gengnya adalah Star Alliance. Kenyataannya, kita bisa memilih sendiri jenis tiket sesuai dengan budget yang kita miliki. Contohnya, ada tiket yang termasuk bagasi/tidak dan termasuk makan/tidak.

Tiket yang kami beli kebetulan termasuk bagasi 23 kg/orang. Agak mubazir sebenarnya untuk tipe turis seperti kami. Kelebihannya, kami tidak perlu pusing bongkar muat bagasi dulu sebelum datang ke counter check in.

Ohiya, kita juga bisa melakukan web check in minimal 24 jam sebelum waktu keberangkatan dan mencetak boarding pass sendiri.

800px-crj900-sas

Sumber: Wiki

Rute yang kami coba adalah Amsterdam – Copenhagen dengan kode perbangan SK 552. Tipe pesawatnya adalah Bombardier CRJ 900. Wah serupa tapi tak sama dengan pesawat Garuda Bombardier CRJ 1000 yang pernah saya naiki dengan rute Makassar – Sorong beberapa waktu lalu.

IMG_0907

Dilihat dari tipe pesawatnya, tidak heran bagasi kabin harus memenuhi ukuran dan berat tertentu. Strict banget loh aturannya.

Menjelang boarding, petugas SAS bergerilya ke antrian penumpang. Begitu melihat penumpang yang membawa tas kabin tidak sesuai aturan, dengan halus tapi maksa, mereka langsung menyuruh penumpang tersebut memakai luggage tag  di tas kabinnya. Ada penumpang yang menolak dengan bilang, “No check in baggage just cabin“. Petugasnya dengan santai menjawab, “Tas lo ga muat dimasukin ke kabin. Harus dititipin sebelum naik pesawat. Tuh lihat aja jenis pesawatnya”.

Memang benar sih. Tangga untuk naik pesawatnya aja kecil begitu. Space dalam kabinnya pun sempit. Pramugari bule yang badannya besar itu agak kesulitan untuk berjongkok atau memeragakan tata cara keselamatan penerbangan.

Garbarata juga tidak disediakan. Kami cuma lewat lorong kecil sebentar, menuruni tangga, lalu sampailah di landasan pesawat. Tinggal jalan kaki sedikit menuju tangga pesawat. Brrrrr udara luaaaar biasa dinginnya sampai bisa menghembuskan nafas naga.

Di landasan dekat pesawat, ada semacam mobil yang disediakan untuk mengangkut bagasi penumpang yang kena luggage tag setelah lewat dari counter check in. Awalnya beberapa penumpang yang kena paksa untuk memasang luggage tag di koper kabinnya agak segan untuk menaruh kopernya di mobil itu. Begitu melihat tangga pesawat yang sempit barulah mereka patuh.

Eh tapi jangan mikir mending ga beli bagasi aja dong, toh nanti dikasih luggage tag sehingga dapat bagasi gratisan. Begitu sampai, ketika akan mengambil bagasi para penumpang tersebut akan ditagih biayanya. Kemungkinan lebih mahal dibanding beli tiket yang termasuk bagasi karena kan on the spot.

Tempat duduk dalam pesawat konfigurasinya 2-2. Kalau ga salah ingat sih di bagian depan ada semacam tempat duduk buat yang beli tiketnya ala-ala business class gitu. Leg room sempit banget tapi masih muatlah untuk orang Asia yang kecil mungil seperti kita.

IMG_0904

Makanan dan minuman harus bayar lagi, kecuali sudah termasuk di tiket. Tidak ada menu yang menarik sih sepertinya. Palingan snack aja karena penerbangannya juga hanya satu jam lebih dikit. Sepertinya kalau mau bayar cuma terima kartu kredit deh. Entahlah, saya kurang memperhatikan. Standar Eropa kan cashless.

IMG_0908

Servis pramugari so-so. Bukan standar ramah orang Asia. Sepertinya cuma ada 1 pramugari deh di penerbangan itu. Maklum, upah tenaga kerja di Eropa mahal.

Saya memutuskan untuk melanjutkan tidur. Perjalanan hingga ketemu kasur masih sangat panjang 😂

Note: sekali lagi maafkan saya yang tidak sempat foto pesawatnya maupun interior dalamnya.

Iklan

Scandinavian Trip Day 0: GA 088 to Amsterdam

Jum’at, 30 Desember 2016

Sungguh akhir tahun yang menyebalkan di kantor. Tidak seperti tahun lalu yang bahkan seminggu menjelang tutup tahun saya tinggal beres-beres meja, tahun 2016 benar-benar empot-empotan dan harus pulang malam. Gila! Ada satu outstanding yang belum selesai hingga detik-detik pulang kantor tapi saya harus bergegas ke bandara. Maafkan yah buat office mate yang rencana akhir tahunnya jadi berantakan karena terpaksa harus ambil alih.

Ya, saya harus ke bandara untuk mengejar pesawat ke Amsterdam. Memang terbang menjelang tengah malam sih tapi di suasana long weekend siapa yang bisa menebak kondisi jalan menuju bandara akan seperti apa. Mungkin saya tidak apa-apa tidak jadi terbang *sambil nangis* tapi bagaimana dengan nasib Okaasan? Mimpinya untuk menginjak Eropa bisa kandas.

Lanjut

Membuat Visa Schengen Norwegia Untuk Kunjungan Keluarga

Ini adalah pengalaman kedua saya dalam membuat Visa Schengen sekaligus pengalaman pertama membuat Visa Schengen kategori C dalam rangka liburan. Penjelasan lengkap tentang Visa Schengen sudah saya tulis di sini.

Di suatu thread saya pernah membaca kalau Visa Schengen dari Kedutaan Norwegia termasuk ke dalam kategori yang sulit didapat.

Benarkah demikian?

Sebenarnya tidak juga. Apalagi jika kita berusaha memenuhi semua pesyaratannya dengan maksimal.

Pertanyaan berikutnya adalah: Apa saja syarat-syarat dokumennya? 

Pada dasarnya hampir semua syarat dokumen pengajuan visa ke berbagai negara mirip-mirip. Tetapi agar tidak melakukan kesalahan saat apply visa tidak ada salahnya kita mencari info yang lebih spesifik. Dimana lagi kalau bukan di website kedutaannya sendiri?

Lanjut

Serba-Serbi Visa Schengen

Apa itu Visa Schengen?

Visa Schengen adalah izin masuk ke negara-negara yang tergabung dalam Perjanjian Schengen (nama sebuah desa di Luxembourg). Totalnya ada 26 negara dimana 22 negara diantaranya merupakan anggota Uni Eropa/European Union (EU).

Norwegia, Islandia (Iceland), Swis, dan Liechtenstein bukan termasuk EU. Keempat negara tersebut masuk ke dalam European Free Trade Association (EFTA) tapi telah menandatangani kesepakatan yang berhubungan dengan Perjanjian Schengen sehingga kita tetap dapat masuk ke sana menggunakan Visa Schengen.

Sebagai catatan, ada daerah yang merupakan bagian dari Negara Schengen tetapi membutuhkan visa/aturan khusus untuk berkunjung contohnya adalah Svalbard (Norwegia), Faroe Island dan Greenland (Denmark), ArubaCuraçaoSint Maarten, dan Caribbean Netherlands (Belanda), Ceuta dan Melilla (Spanyol), serta negara-negara yang termasuk dalam département d’outre-mer (DOM) dan collectivité d’outre-mer (COM) Prancis.

Ada pula negara yang bukan termasuk Area Schengen tetapi membuka perbatasannya dengan Negara Schengen, yaitu San Marino, Monako, dan Vatikan. Artinya, kita juga bisa masuk ke sana menggunakan Visa Schengen.

Azores, Madeira, dan Canary Islands adalah daerah khusus yang merupakan bagian dari EU dan Area Schengen tapi letaknya bukan di benua Eropa.

Bulgaria, Kroasia, Siprus, dan Romania adalah anggota EU yang saat ini belum menjadi bagian dari Negara Schengen tetapi diharapkan dalam beberapa tahun ke depan akan mengimplementasi secara penuh aturan Negara Schengen. Saat ini bagi pemegang Visa Schengen double atau multiple entry kategori C yang masih valid bisa mengunjungi keempat negara tersebut dengan maksimal tinggal selama 90 hari.

Lanjut