Kebumen’s Adventure

Untuk memahami makna SATU MILI DETIK, tanyakanlah pada peraih medali perak olimpiade

Itulah quote yang tepat untuk menggambarkan perjalanan spesial menutup akhir tahun 2013. Yup! One of my best friends, Oknum I, was married. As you might not know, I am not a wedding person. It means I do not go to weddings often unless I have good reasons why I should go. Agak kontradiksi dengan agama yang saya anut yang menyuruh kita untuk menghadiri pernikahan jika diundang. My defense, I had my own personal reasons which I won’t share here. Jangan ditiru ya *wink*.

Berlawanan dengan tidak menghadiri pernikahan, jika harus hadir maka saya memilih untuk datang ke akad. Again, in my defense it’s when the real life changing experience starts. It’s the most important part and the rest just a ceremony like when you celebrate your birthday every year. It’s a Mitsaqan Ghaliza. It could shaken The Arsy of God Almighty.

Tentu saya agak malas juga ya kalau harus pergi sendiri ke tempat “antah berantah” begitu. Untungnya saya berhasil “meracuni” 2 orang teman untuk menemani. Yaaa kan Oknum I, sahabat mereka juga *defense*. Partner in crime yang pertama kebetulan satu kantor sedangkan yang satu lagi harus terbang jauh-jauh dari Padang karena saya racuni tentang pentingnya akad demi sahabatnya si Oknum I ini padahal harus on call Satgas *keprok dululah*.

Best friend+life changing event once in a life time (Insya Allah)+time+money+partner(s) in crime = justifikasi untuk datang. So, what are we waiting for? Kebumen…here we come!

Semuanya sudah direncanakan dengan matang ATAU kami kira begitu. Tiket kereta PP sudah dibeli 2,5 minggu sebelum hari-H. Oknum I telah dikonfirmasi kalau kedatangan kami tidak akan mengganggu his family time (banyak yang berpendapat akad adalah family thingy). Ya kami jelas-jelas akan “mengganggu” karena tiba di Kebumen sekitar pukul 3 subuh di hari akad zzzzz. Rencananya kami akan dijemput oleh adik Oknum I di Stasiun Kebumen lalu dibawa ke rumah Beliau untuk lanjut tidur mandi-mandi cantik sebelum acara inti dimulai.

FYI, akad dan resepsi (versi pengantin wanita) diadakan hari Minggu, 29 Desember 2013. Dari harinya saja sudah sounds wrong (sorry Pul :p). Seninnya kami semua harus tetap masuk kantor dan ga ada yang ambil cuti. Another FYI, sebenarnya ada acara Ngunduh Mantu tanggal 4 Januari 2014 yang notabene hari Sabtu, but as I mentioned before for the shake of akad I took the risk on Desember 29.

Seperti biasa, God has His own plan. Perjalanan pun kalau ga koplak ga ada yang bisa diceritakan ke anak cucu *yeaa kalau gw bisa punya anak*.

Flaw in plan began when one of my other friends, let’s called him Oknum R, text-ed me about giving Oknum I a wedding present less than a week before the Day. Of course who else will be in charge? Me! I absolutely didn’t have any idea what kind of present should we give and also didn’t have time to go shopping. So, I dragged my partner in crime from Padang, let’s call her Buk Boss, into this “trouble”. Because I had to do another thing during the day, we could only do this shopping spree in the afternoon few hours before departing to Kebumen. Imagine how hectic it was *lebay*.

The trouble didn’t stop there, we forgot to buy (and couldn’t find) gift wrapping. I have 2 pieces in my boarding house but the patterns are different. Since the present was quite big, we at least needed 2-3 pieces. Oh don’t forget to mention, I also didn’t have Sellotape :p

Jadilah kami berencana untuk membungkus di stasiun saja setelah menyuruh partner in crime yang lain, sebut saja Si Om, untuk membeli bungkus kado. Dalam pikiran saya sepertinya agak sulit akrobatik di dalam kereta untuk bungkus kado. Jika tidak sempat membungkus sebelum naik kereta lebih baik sekalian ga usah dibungkus saja *WRONG*.

Saya dan Buk Boss telah berangkat sejak 19.30 dari kost. Seperti yang sudah diingatkan oleh Si Om sejak pagi bahwa kereta kami akan boarding jam 20.30 dari Stasiun Senen. Belum ketemu nasi dari pagi, siang & sore yang hectic, dan malamnya harus bawa barang berat kayak gitu meruntuhkan pertahanan kesehatan saya. Saya merasakan keringat dingin mulai bercucuran yang artinya saya akan masuk angin jika tidak segera bertemu nasi. Kereta yang dingin, perjalanan panjang (8 jam), dan akan menginap di tempat orang memperburuk situasi. Saya tidak boleh sampai sakit dan malah nyusahin orang! 😦

Sesampainya di stasiun pukul 20.00 kurang, saya mengajak Buk Boss untuk mengisi perut terlebih dahulu. Anywhere as long as the place is clean enough and I could eat rice. Akhirnya kami menemukan suatu warteg dan memutuskan makan di situ although the food didn’t look appetizing. Saya juga menyuruh Buk Boss (loh Boss kok disuruh-suruh?) agar memanggil Si Om ke tempat itu untuk membantu membungkus kado.

Saya selesai makan sekitar pukul 20.15 dan prosesi membungkus kado masih belum selesai. Saya langsung membayar pesanan dan ikut membantu membungkus. Si Om sudah mengingatkan bahwa kereta kami sudah tiba dan menyarankan agar kami membungkus dalam kereta saja. Tidak ada dari kami yang mau mendengarkan perkataan Si Om *poor him*. Pikiran saya tentang akrobatik membungkus kado masih sama. Pikiran Buk Bos: kereta kami akan berangkat 21.30 *wakwaw*.

Entah bagaimana pokoknya prosesi membungkus kado bergerak in slow motion. Tiba-tiba terdengar panggilan dari dalam stasiun tentang penumpang Kereta Gajayana DAN kami baru mulai bergerak keluar dari warteg bahkan masih sempat beres-beres sampah dulu *facepalm*.

Situasi menjadi sedikit menegangkan karena tidak ada dari kami yang tahu persis jalan masuk ke peron dari arah warteg itu rutenya gimana *double facepalm*. Saya bergantung pada Si Om yang saya kira tahu arah dan Si Om kini membawa bungkusan berat sehingga ga bisa jalan cepat-cepat.

Kami berlari-lari sampai depan pintu masuk dan ada bapak-bapak langsung manggil, “Gajayana…Gajayana…?? Bentar lagi”. Dari situ kami tahu itu pintu yang benar. Tiket dan KTP langsung diserahkan. Eh ndilalah petugas yang meriksa tiket pun bergerak in slow motion. Selesai tiket dan KTP dibalikin, kami langsung lari ke dalam peron yang ternyata berbentuk lorong panjang berliku pake-naik-turun-tangga-segala-padahal-dari-luar-udah-keliatan-keretanya-sehingga-kami-pikir-tinggal-lurus-saja *triple facepalm*.

Adrenaline rush! Biasanya saya errr “suka” dan berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja and then I know that I was WRONG!

Tepat di anak tangga paling bawah sebelum sampai peron, ada petugas yang bilang, “Sudah telat”. Buk Boss langsung saja berhenti. Saya yang selalu mikir “semua akan baik-baik saja” tidak percaya dan langsung berteriak, “Ayoo cepat lariii!!”. Sampai di atas kereta baru mulai bergerak perlahan. Seandainya ada petugas yang membunyikan peluit untuk menyuruh kereta berhenti mungkin masih bisa naik *mana ada!*. Sempat kepikiran untuk langsung loncat. Ada petugas yang sepertinya berpikiran sama tapi dia langsung bilang “Jangan loncat, bahaya”. Lagipula gimana nasib Si Om? Pasti susah loncat karena bawa kado yang guede dan menutup pandangan.

Nyesek ga sih ketinggalan kereta yang super duper penting? Cuma beda beberapa detik doang lewat depan hidung??! I tell you, sangat-sangat nyesek sampai pengen nangis! When I finally decided to go to the wedding! My best friend wedding! When I really hoped that I could be the witness for one of his biggest moment in life. Then just like that, that opportunity just walked away right in front of my nose  :”( Kalau ini film, saya mungkin sudah akting duduk ngedeprok meratapi kereta yang lewat.

Jadi ya kalau kamu nonton film “5 Cm” lalu ada adegan Genta ketinggalan kereta di Stasiun Senen (sama kita Brooo) terus loncat, mind you that it is IMPOSSIBLE! Jangan mau ditipu oleh si sutradara.

Kami pun dengan nelangsa keluar dari peron. I couldn’t think of anything else kecuali percuma kita sudah beli kado karena jalan keluar satu-satunya adalah kirim lewat paket.

Beruntung saya bersama partners in crime yang sangat kalem. Buk Boss menelepon ibunya untuk menenangkan diri. Si Om browsing untuk mencari kereta atau alternatif transportasi lain menuju Kebumen.

Kami pun pergi ke bagian ticketing untuk bertanya tentang kereta selanjutnya. Tambah nyesek lagi saat tahu bahwa itu kereta terakhir. Semua kereta ke Kebumen atau Yogya di jam-jam berikutnya sudah full booked baik dari Senen ataupun Gambir!

Si Om browsing travel ke Kebumen/Cilacap. Buk Boss telepon ke Mas D dan Dek F tentang alternatif rute ke Kebumen. Saya cuma laporan ke Oknum R dan Oknum I kalau kami ketinggalan kereta. Oknum R memarahi saya (dan langsung dimarahi balik oleh Buk Boss *sungkem*). Oknum I malah menertawakan zzzzz. Selanjutnya Oknum I menyarankan kami menghadap Kepala Stasiun minta izin duduk di Gerbong Restorasi Kereta Progo yang berangkat pukul 22.00 dengan alasan kami ketinggalan kereta sebelumnya. Ya kaleee ngadep Kepala Stasiun, kami aja ke bagian informasi dengan muka memelas tetap tidak dikasihani dan tidak diberi alternatif lain zzzz.

Menelepon berbagai travel ternyata semua sudah berangkat dari Jakarta. Niat untuk naik bus pun diurungkan karena Oknum I (yang baru selesai seserahan malam itu zzz) menelepon dan mencegah dengan alasan bisa sampai Kebumen siang hari. Keburu bubar acarane.

Buk Boss mendapat saran dari Dek F untuk naik pesawat paling pagi ke Yogya. Ternyata masih ada seat yang kosong di Batik Air, cukup untuk kami bertiga. Terlanjur “mati” lebih baik “mati” sekalian. Dipesanlah tiket online untuk pesawat 05.40 besok pagi yang akan mendarat pukul 06.50. Seandainya kami mau mundur toh pembayaran paling akhir masih pukul 1 pagi.

Masalah berikutnya adalah, bagaimana caranya dari Yogya ke Kebumen?! Naik bis? Nah! This is one of the perks working in this company, we have friends almost everywhere mostly because we were in the same batch when got accepted. All you must do is just make a phone call  jika kita tidak sungkan.

One phone call from Si Om to our friend in Yogya but he didn’t pick it up (maybe he didn’t recognize Om’s number). One phone call from Buk Boss and he picked it up in ONLY one ring 😀 That’s why I called her Buk Boss *lied*.

Thanks to “Bapak”, we now have transporter to Kebumen 😀 *couldn’t say enough thank you*.

Karena sudah tidak ada yang bisa dilakukan lagi di stasiun bahkan Alfamart pun sudah tidak menerima pembayaran tiket online (sudah hampir pukul 23.00 getoo), kami pun pulang ke kost masing-masing. Pembayaran pesawat akan dilakukan di kost saja.

Di kost pun saya hampir ga bisa tidur. Terlihat tertidur tapi pikiran saya tidak bisa berhenti takut ketinggalan pesawat 😀

Taksi yang dipesan sudah datang sejak pukul 02.15. Pukul 02.30 kami langsung berangkat ke bandara setelah jemput Si Om. Menunggu cukup lama di bandara lebih baik daripada ketinggalan lagi.

Setelah check in blablabla, memasukkan kado segede gaban itu ke bagasi (obviously tidak muat di kabin) dan *fast forward* kami baru saja duduk di ruang tunggu eh langsung dipanggil untuk boarding. Sebelumnya saya khawatir penerbangan ke Yogya akan delay based on pengalaman sebelumnya ke Yogya. Untungnya pesawat berangkat tepat waktu dan landing 10 menit lebih cepat dari jadwal.

Transporter dari “Bapak” ternyata sudah menunggu dan kami diberi lampu hijau untuk diantar kemanapun kami mau :D. Si “Bapak” sendiri tidak ikut karena pulang ke Surabaya.

Berhubung akadnya pukul 07.30 dan kami keluar bandara pukul 07.00 lewat, sudah pasti tidak akan kekejar *sedikit sedih sih*. Jadilah kami menyempatkan sarapan gudeg Yu Djum dulu di sekitar bandara sebelum capcus ke Kebumen. After all that happened last night, lapar Boi!

IMG_1559

Sarapan Gudeg Dulu

Perjalanan Yogya – Kebumen memakan waktu 3,5 jam. Sebagai generasi Z, kami menggunakan Google Maps untuk penunjuk arah yang dengan akurat langsung membawa kami ke tempat resepsi sekitar pukul 11.30.

Terharu sekaligus ga enak karena ibunda Oknum I yang menyadari kami datang dari jauh malah menyuruh kami dijamu di rumah Oknum I lewat perantara adiknya. Again thank you for everything 🙂

IMG_1523

Perjuangan Demi Foto Ini

Singkat cerita kami diantar sampai Stasiun Kebumen oleh Bapak Transporter dan langsung ditinggal. Yak kami menunggu kereta jam 19.00 sejak pukul 13.30 zzzzz. Sempat berubah pikiran dan mencoba memanggil lagi Bapak Tansporternya ternyata Beliau sudah jauh, ya sudahlah ya.

IMG_1542

Mati Gaya di Stasiun Kebumen

IMG_1549

Bagian Dalam Stasiun Kebumen

Ternyata duduk di kereta dengan bangku tegak begitu selama 8 jam membuat saya sakit pinggang selama beberapa hari hahahaha.

Okay, that’s a warp for this epic journey. I couldn’t say thank you enough to Buk Boss who flew far away from Padang. For surprisingly, her calmness during that “tragedy”. She was the one who sounded excited because for the first time we will fly with Batik Air and depart from Terminal 3 Soeta. For the sacrifice, to go to work late *oopsie*. To Si Om, for helping hands bringing the present and of course for the calmness every man should has. To Dek F, for his suggestion of the flight. To “Bapak”, really obvious in the story, what more can I say?

Yup, maybe God has His own plan. Mungkin Dia ga mau kita ngaririweuh yang punya hajat :D. Although our plan witnessing akad ruined, I didn’t blame anyone for the “tragedy”. The one who should be blamed was me. I dragged Buk Boss to have dinner and insisted Si Om to wrap the present at the warteg. So sorry because those acts costed us additional charge.

Lastly, to Oknum I. This post is dedicated to you. Now you know what the present had been through. Hope it didn’t broken because we put it in the cargo 🙂

IMG_1520

Si Om matching dengan bungkus kadonya :p

Iklan

5 thoughts on “Kebumen’s Adventure

    • – Bagus: Yang penting kompak rek
      – Dedew: Punten nya *sungkem* daripada nulis balada teman seperjalanan *wink*
      – Ragil: Tolong ya bilangin ke Oknum R ttg deklarasi perjalanan kita :p

  1. Klo Aku ada di cerita ini,,pasti disingkat Mas B……Oknum R emang suka rempongin orang banget…..Oknum R main donk ke SUB…..ga kangen po sama Mas B…….hehehehehe……….Mba Phi ditunggu main ke SUB nya yah..Buk Bossssssss diajak juga deh…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s